Jumat, 17 September 2010

pemimpin mata perisainya ketaqwaan

Urgensi Sifat Taqwa Bagi Calon Pemimpin
 
Mimbar Jumat
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Q.S. Ali 'Imran ayat 134-135). WASPADA Online

Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag


(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Q.S. Ali 'Imran ayat 134-135).

Sifat taqwa selama ini selalu dipahami dalam bentuk yang abstrak, meskipun ada yang mengkonkritkannya namun hanya sebatas penampilan lahiriyah. Padahal pernyataan ayat-ayat al-Quran tentang taqwa lebih mengarah kepada sifat-sifat yang konkrit dan dapat diukur melalui tindakan sehari-hari seperti dermawan, tidak emosional, pemaaf, sadar dan lain-lain. Memahami taqwa dengan segala keabstrakannya akan menggiring kepada penilaian individual yang sarat dengan pengaruh subjektifitas. Penilaian seperti ini berpotensi mengundang kerunyaman karena boleh jadi seseorang dinilai taqwa oleh satu kelompok namun kelompok lain tidak demikian. Oleh karena itu, perlu mengkonkritkan sifat taqwa sebagaimana disebutkan dalam al-Quran.

Mengkonkritkan pengertian taqwa ini semakin urgen ketika sifat ini selalu dijadikan prasyarat dalam memilih seorang pemimpin sekalipun kriteria ini selalu dipahami secara abstrak. Pemahaman abstrak yang dimaksud disini yaitu lebih menjuruskan pengertian taqwa dengan hubungan manusia kepada Allah dan sedikit sekali yang dikaitkan dengan hubungan sesama manusia. Implikasi dari pemahaman yang seperti ini akan membuat nilai-nilai taqwa hanya terbatas kepada penampilan yang bersifat formalistik. Salah satu contoh yang dapat kita lihat ialah adanya usulan agar masing-masing kandidat pemimpin dapat membaca al-Quran dengan baik. Perealisasian sifat taqwa yang seperti ini sama sekali belum menyentuh substansi yang sebenarnya karena pengamalan isi kandungan al-Quran jauh lebih penting dari hanya sekadar pandai membacanya. Sekalipun tidak disebutkan secara gamblang bahwa dapat membaca al-Quran sebagai bentuk dari ketaqwaan, namun kuat dugaan bahwa syarat ini terilhami dari pemahaman taqwa itu sendiri.

Pemahaman yang seperti ini juga pernah terjadi pada masa Rasulullah dimana masing-masing sahabat menyodorkan seperangkat nama yang mereka anggap sudah bertaqwa. Sebagian mereka memahami bahwa orang yang terus-menerus melakukan shalat, puasa dan 'mengebiri' diri untuk tidak menikah dapat diklaim sebagai sosok yang sudah bertaqwa. Hal ini ditampik oleh Rasulullah dengan menunjuk dirinya sendiri sebagai sosok yang paling bertaqwa namun masih memperhatikan hak-hak diri, keluarga dan masyarakatnya. Sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah ini mengajarkan bahwa taqwa tidak hanya berkaitan dengan ibadah ketuhanan akan tetapi berkaitan juga dengan ibadah kemanusiaan. Defenisi taqwa yang selama ini diketengahkan oleh para ulama yaitu "menjunjung perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya" tidak dapat diartikan hanya sebatas ibadah mahdhah, karena berbuat baik kepada sesama manusia termasuk ke dalam kategori perintah Allah dan menyakiti manusia termasuk yang dilarang-Nya.

Sekilas Tentang Taqwa dalam al-Quran

Kaitan taqwa dengan ketuhanan dan kemanusiaan dapat dilihat melalui Q.S. al-Baqarah ayat 3 dan 4. Pada kedua ayat ini disebutkan kata 'iman' kepada yang gaib seperti Allah dan hari akhirat dan juga kepada yang tidak gaib seperti beriman kepada kitab-kitab plus mendirikan shalat. Adapun dimensi hubungan kemanusiaan dapat dilihat melalui kata 'infak' yaitu menyisihkan sebagian rezeki yang sudah diberikan oleh Allah. Secara spesifik alQuran juga memberikan petunjuk tentang kaitan taqwa dengan kemanusiaan sebagaimana terdapat dalam Q.S. Ali 'Imran ayat 134 dan 135. Pada kedua ayat ini disebutkan ada 4 (empat) kriteria orang-orang yang taqwa yaitu kontiniu dalam berinfak, mampu menahan amarah, pemaaf dan cepat menyadari kekeliruannya.

Agaknya, kriteria taqwa yang disebutkan dalam surat Ali 'Imran ini (dan mungkin juga ayat-ayat yang lain) dapat dijadikan sebagai prasyarat untuk memilih seorang pemimpin karena terkesan lebih konkrit. Kuat dugaan bahwa penyebutan kriteria ini adalah untuk memudahkan penilaian agar pandangan tentang taqwa terkesan lebih membumi dan tidak diartikan secara serampangan. Ketika al-Quran menyebutkan kriteria 'infak' dengan menambahkan kalimat fi alsarra' wa aldharra' (waktu lapang dan sempit yang dalam bahasa petani disebut dengan musim panen dan peceklik atau dalam bahasa PNS disebut dengan bulan muda dan bulan tua) menunjukkan bahwa sifat ini harus mengkristal dalam diri yang bersangkutan. Oleh karena itu, kedermawanan yang bersifat temporer seperti gemar berinfak hanya pada saat menjelang pilkada tentu saja tidak termasuk ke dalam kriteria ayat di atas.

Selanjutnya disebutkan juga bahwa ciri khas orang yang taqwa ialah kemampuan mengendalikan sifat amarah. Sifat ini sangat cocok bagi seorang pemimpin agar tidak menggunakan wewenangnya semenamena. Imam al-Qurthubi menafsirkan kalimat ini (wa alkazhimin alghaizh) yaitu kemampuan mengendalikan diri dengan tidak menggunakan kekuasaan dan wewenang untuk menghancurkan lawan-lawannya. Kriteria lain yang tak kalah pentingnya adalah sifat pemaaf yaitu tidak melakukan tindakan balasan meskipun yang bersangkutan memiliki hak dan wewenang untuk melakukannya. Sifat maaf ini lebih tinggi dari adil dan karenanya pemimpin yang ideal tidak hanya sebatas mampu mewujudkan keadilan akan tetapi memiliki kemampuan untuk memaafkan.

Manusia adalah makhluk yang memiliki dua sifat yaitu salah dan lupa termasuk para pemimpin. Orang-orang yang taqwa adalah orang yang tidak pernah mengabadikan kedua sifat ini pada dirinya dan bahkan cepat mengambil sikap untuk tidak larut dalam kesalahan. Dengan demikian, seorang pemimpin yang taqwa tidak pernah merasa 'alergi' terhadap kritikan-kritikan dan bahkan kritikan-kritikan ini dijadikan sebagai alat untuk menuju kesempurnaan dirinya. Keempat karakteristik orang-orang yang taqwa sebagaimana digambarkan oleh al-Quran di atas tetap saja berlaku bagi segenap individu. Namun demikian, prasyarat ini dapat saja lebih ditekankan dalam hal memilih pemimpin karena mereka memiliki tanggung jawab plus dalam mengemban amanah umat. Dengan demikian, kriteria taqwa yang selalu ditempatkan pada urutan pertama tidak lagi hanya sebatas basa-basi dan tabarruk.

Penutup

Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa persyaratan taqwa dalam menjaring seorang pemimpin sah-sah saja dilakukan akan tetapi pemaknaan taqwa yang bersifat abstrak perlu dikaji ulang untuk menghindarkan penilaian yang bersifat subjektif. Pengkajian ulang dimaksud yaitu dengan memberikan kriteria yang riil supaya persyaratan taqwa yang selalu dicantumkan dalam pemilihan pemimpin tidak terkesan mencat langit sambil menghitung bintang-bintang.

Penulis adalah Dosen Fak. Tarbiyah IAIN SU dan Sekretaris el-Misyka Circle.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar